Separation Anxiety
- Jesica Belva Widyaprasetia
- 1 Sep 2021
- 2 menit membaca

Sekarang memang masih masa pandemi. Kita masih dihimbau untuk tidak banyak keluar rumah. Sedapat mungkin beraktivitas di rumah saja. Bekerja di rumah, menjalankan kegiatan lainnya di rumah, berbelanja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari pun kalau bisa pesan dari rumah saja.
Anak-anak juga demikian. Mereka masih harus belajar dan bersekolah di rumah, bertemu dengan teman-teman dan guru secara daring. Kita sebagai orang tua dituntut untuk aktif mendampingi proses belajar anak, lebih dari sebelum-sebelumnya.
Ya, kita masih berada di masa pandemi. Tetapi cepat atau lambat, seiring dengan usaha kita semua (pemerintah maupun masyarakat), dengan vaksinasi, dengan mentaati prokes, dengan selalu menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh, cepat atau lambat virus yang menyebabkan pandemi itu akan bisa kita kalahkan, setidaknya kita kendalikan.
Dan kehidupan pun akan berlangsung normal kembali, meskipun mungkin dengan bentuk kenormalan baru yang berbeda dengan sebelum pandemi. Kita bekerja kembali di kantor, di sekolah, di tempat kerja. Demikian juga berbelanja, berekreasi, beraktivitas juga dilakukan kembali di luar rumah.
Dan tentu saja, sekolah juga demikian. Anak-anak akan kembali belajar di kelas, bersama dengan teman-temannya. Sekarang ini pun di beberapa wilayah sudah diselenggarakan pembelajaran tatap muka secara terbatas. Cepat atau lambat, semakin banyak daerah dan wilayah yang melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Meskipun kondisi semacam itu mulai dirindukan dan dibutuhkan, tetapi nantinya kita akan berurusan dengan hal-hal klasik berkaitan dengan bersekolahnya kembali putra-putri kita. Membiasakan kembali rutinitas sekolah, membangunkan anak di pagi hari, menyiapkan baju dan keperluannya, mengantar-jemput mereka.
Salah satu masalah yang harus siap kita hadapi mungkin adalah ini : separation anxiety. Separation anxiety adalah kecemasan yang dirasakan anak (khususnya siswa pra-sekolah) ketika harus berpisah dengan orang tuanya, setelah mereka diantarkan ke sekolah.
Anak prasekolah umumnya akan melalui masa penyesuaian diri, sebelum beradaptasi sebagai anggota kelompok. Penyesuaian diri seperti ini normal. Reaksi anak menghadapi perpisahan dengan orang tua berbeda-beda. Kecemasan dan tangisan adalah hal yang wajar pada minggu-minggu pertama mereka di sekolah, khususnya di Kelompok Bermain atau Taman Kanak-Kanak.
Tingkat kecemasan tiap anak berbeda-beda. Ada yang cepat beradaptasi dan berani bersosialisasi dengan lingkungan barunya. Ada pula yang butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi dan bersosialisasi. Untuk mendukung kemandirian anak, diperlukan kerjasama antara orang tua dengan pendidik.
Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa kita terapkan saat kita berhadapan dengan masalah kecemasan anak tersebut :
Berbicaralah dengan tenang dan santai bahwa Anda tidak bisa ikut masuk dan menemaninya bermain. Pahamilah perasaan anak Anda dan bersikaplah positif terhadap perasaannya.
Informasikan bahwa Anda menunggu di ruang tunggu, atau jika pulang yakinkan bahwa Anda akan menjemputnya tepat waktu.
Sebutkan nama teman atau pendidik untuk menumbuhkan rasa akrab, katakan bahwa dia akan senang bermain dengan teman-temannya.
Berikan pelukan atau ciuman sebelum Anda meninggalkannya. Jangan pergi terburu-buru, menunjukkan keraguan atau kecemasan. Anak dapat merasakannya dan membuatnya makin sulit ditinggalkan.
Yang terpenting adalah kerjasama dengan pendidik dan bersikap konsisten dengan kesepakatan yang sudah Anda buat dengan anak.
Commenti